Gambar 1 Gambar 2 Gambar 3

Solidaritas Muslim Indonesia di Darwin Australia

Hari minggu tanggal 17 maret 2019 kami bergegas pergi ke mesjid Islami Center Darwin untuk memenuhi undangan silaturahmi dan pengajian. Jarak dormitory menuju Islamic Center Darwin cukup jauh. Untuk pergi kesana kita memerlukan waktu 30 menit denga berjalan kaki. Jika menggunakan bus umum, kami membutuhkan dua kali pergantian bus, bus CDU РKaswarina dan bus Kaswarina РPalmerston.Jarak yang cukup jauh  ini tidak menyurutkan langkah kami untuk pergi memenuhi undangan saudara kami. Semula kami berencana untuk berjalan kaki saja sekalian mengenal lingkungan Darwin. Namun, kami begitu takjub ketika ada saudara kami setanah air datang menjemput kami. Dengan mobil pribadinya dia mengantarkan kami dari dormitory menuju mesjid. Dia bernama Mujib,mahasiwa calon PHd di Charles Darwin University. Perawakannya tinggi besar, bahasanya halus, dan sikapnya kalem. Jika pulang ke Indonesia, dia pantas jadi idola mahasiswanya. Selang beberapa waktu, tibalah kami di mesjid. Gerbang bagian depan di tutup dan kami masuk melalui pintu belakang. Ini mungkin salah satu tindakan preventif untuk menghindari kejadian serupa yang terjadi di New Zealand 3 hari yang lalu

 

Penampakan belakang mesjid Islamic Center Kota Darwin

Ada pemandangan berbeda ketika kami masuk ke pelataran mesjid. Di pelataran mesjid tampak karangan bunga denga berbagai tulisan. Ini bentuk solidaritas warga sekitar mesjid darwin, dan bahkan ada tulisan beserta rangkaian bunga yang ditulis oleh seorang pastur. Tragedi kemanusiaan yang terjadi di New Zealand memberikan makna tersendiri untuk kota Darwin. Tragedi tersebut menyebabkan Kota ini semakin solid dan bersatu tanpa mengenal suku, agama, dan ras.

Karangan bunga untuk korban kekerasan bersenjata New Zealand

Selepas solat dhuhur jam 13.30 kami berkumpul di aula Islamic Center Darwin. Seolah hati ini tidak pernah berhenti untuk merasa takjub. Kami bertemu dengan saudara semuslim dan setanah air. Mereka memeluk kami dengan erat dan mengatakan “ahlan wa sahlan” ..sebegitu eratnya ikatan ini mengalahkan ikatan darah. Aula dipadati ikatan muslim indonesia di Darwin. Acara berlangsung dengan hidmat dan penuh kehangatan. Ustadz berceramah dalam kurun waktu satu jam menyirami hati kami yang kering. Maklum saja kami baru menemukan pengajian setelah kami dua minggu di Ausie.¬† Darwin kota yang indah. Darwin kota yang ramah. Darwin kota saudara kami semuslim.

Suasana Pengajian di Aula Islamic Center Darwin

Darwin, 18 Maret 2019

Abdul Aziz Rahman, M.Pd.

Loading Likes...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *